Sabtu, 23 November 2013

Dampak GAME pada Tumbuh Kembang Anak

Beberapa tahun terakhir video game, baik offline maupun online, berkembang pesat. Peminatnya tidak hanya anak-anak di kota besar, namun juga di kota kecil dan desa. Sayangnya, orangtua sering memiliki pandangan yang keliru tentang game. Banyak yang mengira anaknya jenius karena pintar bermain game dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Sebagian beralasan lebih baik anak bermain game daripada terjerat narkoba, atau lebih baik menyediakan game dirumah ketimbang anaka harus pergi ke warnet.

BERDAMPAK NEGATIF
            Bermain game awalnya tidak bersifat patologis atau mengganggu aktivitas sehari-hari, namun jika kecanduan dapat mengganggu tumbuh kembang anak. Hingga Januari 2013, RS Jiwa Soeharto Heerdjan, Jakarta telah merawat lebih dari 11 pasien anak dan remaja yang kecanduan game. Lima orang diantaranya dirawat secara intensif karena mengalami gangguan kejiwaan yang serius.
            Game dapat membuat anak dan remaja kecanduan, seperti obat narkotika atau judi. Awalnya mungkin sekadar hiburan, santai atau rileks dari padatnya aktivitas sekolah, namun dapat berkembang sebagai arena persaingan. Perasaan senag yang muncul dari kepuasan menaklukkan tantangan membuat anak ingin terus mengulang hingga akhirnya ia lupa waktu dan tempat karena terus berkonsentrasi pada permainan tersebut.
            Banyak pemain game (gamer) mendapat dampak serius dari aktivitas ini. Data dari penelitian di Amerika Serikat menyatakan 1 dari 10 gamer (85%) mengalami gangguan kehidupan sosial, prestasi belajar, sekolah dan juga pekerjaan bagi orang dewasa. Beberapa penelitian di Cina (10,3%), Australia (8,0%), Jerman (11,9%), Taiwan (7,5%), dan Singapura (7,6-9,9%) juga menunjukkan hasil yang serupa. Sayang sekali belum ada data tentang hal ini di Indonesia.

PENGARUHNYA
             Kecanduan bermain game mempengaruhi tumbuh kembang anak, di antaranya:

  • Menyebabkan perilaku agresif, terutama bagi anak laki-laki karena kecenderungan memainkan game dengan tema kekerasan.
  • Mengabaikan kebutuhan lain, misalnya belajar, makan, mandi, tidur, dan lebih suka bermain game sendiri di depan komputer atau televisi daripada bergaul dengan saudara atau teman di lingkungan sekitar.
  • Mengganggu kesehatan, berupa gangguan pencernaan, kram tangan dan lain-lain karena sering mengabaikan kebutuhan makan dan istirahat.
  • Memicu masalah emosi, seperti sering marah, murung, merasa sendiri, dan marah ketika mendapat teguran karena terlalu lama bermain game.
  • Mengalami obsesi, yaitu persaan tertekan ketika tidak bermain sehingga anak terus berpikir tentang game dan ingin bermain untuk waktu yang cukup lama.
  • Mendorong ketidakjujuran, biasanya mengenai waktu dan uang yang telah mereka habiskan untuk bermain game. Mereka melakukan ini karena kebohongan merupakan cara untuk melindungi kesenangan bermain game.
  • Tidak mampu mengendalikan diri, seorang pecandu game awalnya berencana bermain selama satu jam, akan tetapi ia melakukannya selama dua jam atau lebih, bahkan mungkin sepanjang malam. Mereka melakukan ini karena mengalami kesenangan saat bermain dan kehilangan rasa itu saat berhenti. Untuk mengatasi rasa kehilangan itu pecandu memilih bermain game lebih banyak lagi. Proses ini merupakan lingkaran setan seperti yang dialamai pecandu rokok, narkotika, dan judi.
  • Mempengaruhi otak. Permainan yang terus-menerus dilakukan menjadi pengalaman baru, seperti proses belajar dan mengingat. Pengalaman baru yang menyenangkan dapat meberikan motivasi bagi otak untuk terus melakukannya dan akhirnya menimbulkan perubahan pada struktur dendrit sel-sel di otak. Perubahan tersebut mengakibatkan masalah pada anak dalam mengontrol perilaku sehari-harinya. Perubahan struktur melalui pemeriksaan MRI (Magnetic Resonansi Imaging). Pecandu game mengalami peningkatan metabolisme glukosa dalam gyrus orbitofrontal kanan tengah, nukleus caudatus kiri, dan insula kanan dari otak, dibanding anak normal.